Jumat, 25 Juli 2014

Si Pemikir..


entah sejak kapan sifat itu ada dalam hidup saya.
tersiksa~yups emang kadang rasanya tersiksa banget punya sifat pemikir, setiap apa yang mau saya lakukan saya akan berfikir mulai dari latar belakang sampai tujuan akhir hal tersebut, baguslah kalo kaya gitu?!
mencoba menilai dengan bijaksana..tapi ternyata hal ini belum mencapai kemufakatan dalam pikiranan saya.
tapi kadang sifat inilah yang membuat saya lebih bisa me-manage ‘omongan’ saya yang gak penting, karna saya mempunyai kebiasaan yang bisa dibilang buruk…”cerewet..apa aja diomongin”
mungkin ini telah terbukti karna ketika saya jalan dengan mamah, atau teman sekawan saya selama sekolah ataupun di Ma’had mereka pasti mengeluarkan kata ‘cerewet ya’.  ;D
Mungkin hanya mereka yang mengetahui sifat saya yang ini, karna merekalah yang sering jalan sama saya. eits. kecuali papah saya..mungkin hanya beliau yang jalan sama saya dan gak pernah protes sama apa yg saya omongin…dan idk.
Pemikir…hal yang paling memberatkan bagi saya seorang penderita adalah ketika saya memikirkan sesuatu sampai saya melewatkan hal tersebut, ‘sakitnya tuh disini’ bzzzz
apalagi hal itu ternyata lebih banyak mendatangkan manfaat…rasanya pengen ngulang waktu!tapi apa daya, mungkin ketika saya mengalami kondisi seperti itu saya hanya terdiam..sampai ketika ada orang yang menyangka bahwa saya sedang marah..hmm
alhamdulillah…ada aja sesuatu yang buat saya move on dari keadaan terpuruk macam itu, tapi kalo tiba tiba lagi gak ada? (……………………………)
Terkadang ketika dalam masalah sifat Si Pemikir itu makin menjadi-jadi dan tanpa diduga suatu kesimpulan yang dewasa datang, mengalir gitu aja..
tapi entah, saya kurang ngerti makna dewasa secara harfiah-nya. jadi, saya tidak bisa memastikan kesimpulan yang datang ketika ada masalah datang itu bersifat dewasa, atau malah….
yang jelas dengan sifat kaya gitu saya lebih bisa liat masalah dalam lingkup “subjek dan objek permasalahan”.
"sebab dan penyebab masalah" dsb

jadi, Si Pemikir patut dipertahankan atau ditinggalkan?
mungkin diperbaiki prosesnya aja kali ya..
semoga makin baik deh, apalagi sekarang bulan Ramadhan.
banyak-banyak doa supaya jadi pribadi yang punya akhlak lebih baik dan lebih baik lagi..
mengingat akhlak yg sekarang masih jauh dari kata baik.
semangat^^
Mk~

Rabu, 09 April 2014

Salma's Journal: 7 Golongan Yang Allah Naungi di Hari Kiamat

Salma's Journal: 7 Golongan Yang Allah Naungi di Hari Kiamat: Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ ا للَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْم...

"aku orang kaya" dan "aku orang miskin"

Sungguh aneh.
Perkembangan jaman seakan-akan membuat situasi kehidupan semakin kejam. Menyedihkan, mengerikan, mencekam, mengharukan, hah! huhu serem banget kata katanya (..)
tapi tepatnya untk kondisi yang kaya sekarang ini nih "menyedihkan".
okey, kali ini saya mau  bahas tentang pandangan saya terhadap ekonomi politik sosial dan budaya yang ada di Indonesia, wih wih wih meuni gaya 
walaupun saya anak IPA gadungan tapi tidak membuat saya buta akan dunia sosial loh..hhe.
okey langsung masuk ke pembahasan aja kali ya, check it out..

 Ketika orang miskin semakin miskin dan orang kaya semakin kaya

 Sadar gak sih kalo permasalahan ini semakin merajalela. Ketika orang kaya sibuk dengan kekayaannya, alhamdulillah kalo sibuk untuk berbagi, kenyataannya?apakah rasa empati itu telah musnah?
kenapa kepedulian itu mahal sekali harganya, bahkan kekayaan mereka saja tidak bisa membeli untuk memiliki rasa kepedulian itu. Miris.

apakah rumah mewah itu tidak bisa menjadi "kaca" bagi mereka terhadap gubuk-gubuk kecil?
ketika teriknya matahari menyengat tubuh mereka..dinginnya AC lah yang kita rasakan
tahu kah kau seberapa beratnya perjuangan mereka untuk mencari uang sebesar sepuluh ribu rupiah saja?!

sementara orang kaya model jaman sekarang ini untuk membantu orang "kecil' aja pake mikir-mikir dulu!
memang tidak bisa dipungkiri, banyak sekali kasus penipuan yang terjadi dan membuat para kaum 'bangsawan' menjadi enggan untuk berbagi. Tetapi sangat nyata, dan itu ada disekitar kita (jika kita mau melihat dengan hati) keluarga yang membutuhkan uluran tangan para 'bangsawan' sedang menahan kelaparan, cobalah tengok mereka! apakah harimu memang benar-benar sibuk dengan gadget mahal yang kau miliki?apakah hari liburmu memang benar-benar memiliki jadwal yang padat untuk pergi ke mall-mall, cafe, dan tempat rekreasi kalangan atas?apakah harimu begitu mudah untuk berpergian kesana kemari dengan mobil mewah mu yang ber AC dan lengkap oleh TV-nya itu?  sehingga wajar kau tak pernah melihat betapa khawtirnya para pedangang pinggir jalan menunggu pembeli, betapa kepayahannya tukang sapu membersihkan sampah dipinggir jalan, pernahkah kau merasakan kekhawatiran mereka agar ia bisa memberi makan anak dan istrinya, membayar uang sewa rumah(ngontrak), membayar sekolah anak, dan lain-lain, sesuatu hal yang mungkin kita tidak pernah rasakan kerumitan perkekonomian yang dialami mereka.
mana aktualisasi dari yang kau tulis dalam status-mu yang indah itu untuk saling membantu terhadap sesama?
cobalah sedikit jujur terhadap diri kita sendiri, berapa banyak kekayaan yang kita miliki?dan berapa banyak kekayaan kita yang telah dipergunakan untuk beramal kepada mereka yang membutuhkan?
'ah saya sudah beramal ko'
cobalah jangan egois untuk jujur.
Tidakkah jika semua orang kaya (dari yang kelebihan banyak, sampe yang berkecukupan) menolong atau bahkan menunjang kehidupan1-5 keluarga miskin, mungkin tingkat kemiskinan akan menurun.

bukan berarti sang penulis yang paling banyak amalannya, tulisan ini juga diperuntukkan bagi saya dan semoga bermanfaat bagi para pembaca :)